BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Gerhana
Gerhana dalam bahasa Arab disebut dengan kusuf
atau khusuf. Kedua kata tersebut dipergunakan baik untuk gerhana Matahari
ataupun gerhana Bulan. Hanya saja, kata kusuf lebih dikenal untuk penyebutan
gerhana Matahari (kusuf as-syams) dan kata khusuf lebih dikenal untuk
sebutan gerhana Bulan (khusuf al-qamr).
Dalam
padanan kata bahasa Inggris disebut “eclise” dan dalam bahasa latin
disebut “ekleipse”. Istilah ini dipergunakan secara umum, baik gerhana
Matahari ataupun gerhana Bulan. Namun dalam penyebutannya didapat dua istilah Eclice
of The Sun Untuk gerhana Matahari, dan Eclice of The Moon utuk gerhana Bulan. Dan
digunakan istilah solar eclise untuk Matahari, dan lunar eclise untuk
gerhana Bulan. Sedangkan dalam bahasa sehari-hari kita, kata gerhana
dipergunakan untuk mendiskripsikan keadaan yang menggambarkan kehilangan atau
kemerosotan (secara total atau sebagian) kepopuleran atau kesuksesan seseorang,
kelompok atau negara. Gerhana juga bisa dikonotasikan sebagai kesuraman sesaat
(terprediksi, berulang, atau tidak) dan masih diharapkan bisa berakhir. Dari
berbagai istilah tersebut, istilah tersebut berbahasa arablah yang paling mendekati
pada pengertian sebenarnya, di mana “kusuf” berarti menutupi, sedangkan
“khusuf” berarti memasuki. Sehingga kusuf al-asyami menggambarkan Bulan
memasuki Matahari baik sebagian maupun seluruhnya.[1]
2.
SEBAB TERJADINYA GERHANA MATAHARI
Kusuf berarti “memutupi” . Ini yang menggambarkan adanya fenomena alam bahwa (dilihat dari Bumi) bulan menutupi
Matahar, sehingga terjadi gerhana
matahari. Gerhana matahari akan terjadi
pada saat ijtima’ (konjungsi), dimana bulan dan matahari berda di salah satu
titik simpul atau terdekatnya. Bidang ellips lintasan bumi dengan bidang
ekstetika membentuk sudut 0 ̊ karena kedua bidang ini berimpit. Sedangkan
bintang lintasan bulan dan bidang ekliptika tidak berimpit, melainkan membuat
sudut sebesar 5 ̊ 8’. Oleh karenanya tidak setiap ijtima’ akan mengalami gerhana.[2]
Gerhana Matahari terjadi ketika matahari, bulan dan bumi berada pada
satu garis lurus. Gerhana matahari terjadi pada fase bulan baru (new moon),
namun tidak setiap bualn baru akan mengalami gerhana matahari. Walaupun bulan
lebih kecil, namun bayangan bulan mampu melindungi cahaya sepenuhnya karena
Bulan dengan jarak ,rata-rata 384.400 Kmdalah lebih dekat kepada Bumi
berbanding dengan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680,000km. [3]
Hal ini disebabkan bidang orbit bulan mengitari
bumi tidak sejajar dengan bidang orbit bumi mengitari matahari (bidang
ekliptika), namun miring membentuk sudut sebesar 5 drajat. Seandainya bidang
orbit bulan mengitari tersebut terletak tepat pada bidang ekliptika, maka
setiap bulan baru akan terjadi gerhana Matahari.[4]
3.
MACAM-MACAM GERHANA MATAHARI
Gerhana
matahari dapat terjadi 2 sampai 5 kali dalam satu tahun, tetapi yng dapat
menyaksikan hanyalah beberapa tempat dipermukaan bumi ini saja. Memperhatikan
piringan matahari yang tertutupi oleh
bulan pada gerhana matahari, maka gerhana matahari itu ada tiga macam yaitu :
a.
Gerhana Matahari Total
Gerhana Matahari
total atau sempurna atau kulliy terjadi manakala antara posisi bulan dengan
bumi pada jarak yang dekat, sehingga bayangan kerucut (umbra) bulan menjadi
panjang dan dapat menyentuh permukaan bumi, serta Bumi-Bulan-Matahari pada satu
garis.
b.
Gerhana cincin
Gerhana matahari
cincin atau halqiy terjadi manakala antara posisi bulan dengan bumi pada
jarak yang jauh, sehingga bayangan kerucut (umbra) bulan menjadi pendek dan
tidak dapat menyentuh permukaan bumi, serta Bumi-Bulan-Matahari pada garis
lurus. Ketika itu diameter bulan lebih kecil daripada diameter Matahari,
sehingga ada bagian tepi piringan Matahari yang terlihatdari bumi.
c.
Gerhana Matahari sebagian
Gerhana Matahari
sebagian atau disebut ba’ily, terjadimanakala antara posisi bulan dengan
bumi pada jarak yang dekat, sehingga bayangan kerucut (umbra) bulan menjadi
panjang dan menyentuh permukaan bumi, tetapi Bumi-Bulan-Matahari tidak tepat
pada satu garis.[5]
[1] Dr. H. Ahmad Izzudin, M.Ag, Ilmu Falak
Praktis, hlm 105
[2] Muhyiddin Khazain, Ilmu Falak Dalam Teori Dan
Praktik, hlm 187
[3] Dr. H. Ahmad Izzudin, M.Ag, Ilmu Falak
Praktis, hlm 113
[4] Dr. Eng. Rinto Anugrah, M.Si, Mekanisme
Benda Langit, hlm 126
[5] Dr. H. Ahmad Izzudin, M.Ag, Ilmu Falak
Praktis, hlm 144
Tidak ada komentar:
Posting Komentar