Senin, 23 Maret 2015

Cara menggunakan Google Eart



MENENTUKAN ARAH KIBLAT DENGAN MENGGUNAKAN GOOGLE EARTH*

 

Oleh : Muzakkin



Google Earth adalah sebuah software yang sudah tidak asing lagi bagi pengguna internet yang disediakan secara gratis oleh perusahaan Google di www.google.com.
Gambar 01

Google Earth merupakan sebuah globe ajaib yang bisa memperlihatkan peta bumi yang berbentuk bola, negara, juga kota-kota yang ada di seluruh dunia. Bahkan bisa memvisualisasikan daerah tempat tinggal kita, pemukiman, jalan, sungai, sawah, hingga nampak atap rumah kita masing-masing. Demikian juga masjid dan mushalla disebuah kampungpun bisa kita amati dengan mudahnya. Berkaitan dengan arah kiblat setiap masjid, mushalla, rumah kita ataupun juga kuburan tempat pemakaman, begitu mudahnya bisa kita periksa akurasi dan kebenarannya dengan menggunakan software gratis tersebut di atas.

Langkah-langkah:
Anggaplah kita sudah menginstall software Google Earth dalam PC atau Laptop yang kita miliki, yang sudah online terhubung internet. Adapun langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah sebagai berikut :
Gambar 02
  1. Cari atau pergi ke Masjidil Haram di kota Makkah, yaitu di kordinat :  21°25'21.00"U       dan 39°49'34.39"T. Misalnya ketikkan “Mekkah” pada kotak pencarian, kemudian cari dengan klik icon  di deretan menu atas atau pada sidebar.
  2. Buat atau “tambahkan tanda letak” dengan klik icon  di menu yang terdapat di deretan atas. Geser dan tempatkan persis di atas Masjidil Haram, kemudian beri nama, misalnya “Masjid al Haram”. (Gambar 02)
Gambar 02

  1. Cari atau pergi ke lokasi yang anda kehendaki. Pada contoh di sini kita pilih desa Karanggeneng, yaitu di kordinat :    6°59'9.48"S , 112°22'22.74"T. Misalnya ketikkan “Karanggeneng” pada kotak pencarian, kemudian cari dengan klik icon  di deretan menu atas atau pada sidebar.
  2. Buat atau “tambahkan tanda letak” sebagaimana langkah ke-2 di atas. Berikan nama lokasi, misalnya “Karanggeneng”. (Gambar 03)
Gambar 03

  1. Dari sini kita akan bisa mengecek arah kiblat untuk daerah Karanggeneng dan sekitarnya, kapanpun kita butuhkan.
  2. Klik icon  untuk tampilkan atau sembunyikan sidebar di sebelah kiri layar.
  3. Pada sidebar tampak tanda-tanda tempat yang sudah ditambahkan di sini. Dalam contoh ini “Masjid al Haram” dan “Karanggeneng”. (Gambar 04)
Gambar 04

  1. Apabila kita ingin mengetahui arah kiblat untuk Karanggeneng dan sekitarnya, maka kita tinggal double klik tanda Karanggeneng pada sidebar, dan beberapa saat sampailah kita di lokasi Karanggeneng. (Gambar 05)
Gambar 05

  1. Berikutnya buatlah garis lurus yang menghubungkan lokasi di Karanggeneng hingga Masjidil Haram dengan klik icon  pada deretan menu atas. Letakkan pointer awal di sembarang tempat di dekat lokasi Karanggeneng. (Gambar 05). Selanjutnya double klik tanda Masjid al Haram pada sidebar, dan beberapa saat sampailah kita ke Masjidil Haram. Letakkan pointer akhir tepat di atas Ka’bah, dan klik sekali saja di atas pointer tersebut. (Gambar 06)

  1. Ingat dan hati-hati, jangan lakukan klak-klik di sembarang tempat di atas peta Google Earth. Hal ini akan bisa menghapus garis yang baru saja kita buat, yang akibatnya kita harus mengulang membuat garis dari pointer awal. Untuk berpindah tempat pada peta, hanya gunakan tombol anak panah pada keyboard. Untuk merubah ukuran peta bisa kita gunakan tombol plus (+) dan minus (-) atau rol pada mouse.

Gambar 06

  1. Langkah berikutnya, kita kembali ke lokasi Karanggeneng dengan double klik tanda Karanggeneng pada sidebar. Beberapa saat kita akan sampai di Karanggeneng dan bisa melihat, bahwa garis yang terbentuk itulah arah Kiblat yang sebenarnya yang mana akurasinya sangat tinggi. Pada box  penggaris kita bisa melihat berapa derajat nilai sudut atau azimut arah Kiblat yang ingin kita ketahui. Misalnya, 294 koma sekian derajat dihitung dari titik utara searah jarum jam. Atau 24 koma sekian derajat dari titik barat. (Gambar 07)
Gambar 07

  1. Akhirnya, kita bisa memeriksa atau mengetahui arah Kiblat tempat-tempat di sekitar lokasi Karanggeneng seperti Masjid, Mushalla, rumah, gubuk di sawah atau tambak, kuburan dan lain sebagainya. Caranya sebenarnya mudah akan tetapi sekali lagi hati-hati. Posisikan pointer mouse pada titik ujung garis hingga muncul pointer berbentuk gambar tangan (ingat, hanya jika muncul pointer berbentuk tangan). Lakukan drag dan seret ke manapun kita mau, misalnya masjid. Dalam contoh ini pointer diseret ke arah sebuah masjid di desa Sumberwudi (tapi dalam Google tertulis Mertani, desa tetangga). Nah dari gambar foto masjid dan garis yang kita buat ini siapapun bisa melihatnya, sampai seberapa besar akurasi bangunan tersebut menghadap arah Masjidil Haram, atau Arah Kiblat. (Gambar 08)
Gambar 08

  1. Selanjutnya pointer bisa dipindah geser ke tempat manapun kita mau, misalnya masjid dan mushalla di tempat lain.

  1. Software sejajar dengan Google Earth kita bisa menggunakan Qibla Locator di http://qiblalocator.com atau di http://rukyatulhilal.tripod.com/qiblalocator . Software ini memang dirancang khusus untuk melacak dan menentukan arah Kiblat.

  1. Akhirnya, tekan tombol Print Screen dan simpan atau cetak. Selesai, selamat mencoba. Wallahu a’lamu bish-shawab...







*)   Disajikan pada Diklat Hisab & Rukyat Lab. Ilmu Falak Fak. Syari’ah UIN Malang 28 s/d 30 Januari 2011

Perhitungan Arah kiblat (Data Ephimeris Hisab Rukyat)



PERHITUNGAN ARAH KIBLAT
(DATA EPHEMERIS HISAB RUKYAT)


            Masalah kiblat tiada lain adalah masalah arah, yakni arah kota Mekah yang terdapat Ka’bah di dalamnya.  Arah ka’bah ini dapat ditentukan di setiap permukaan bumi dengan melakukan perhitungan dan pengukuran. Mengingat setiap tempat dipermukaan bumi ini berada pada permukaan bola, maka penentuan arah kiblat dilakukan dengan Ilmu Ukur Segitiga Bola (Spherical Trigonometri). Pengukuran dengan derajat sudut dari titik kutub utara. Dengan demikian ada tiga buah titik yang harus dibuat, yaitu:
1.      Titik A, terletak di Ka’bah (φ = +21° 25’ dan λ = 39° 50 BT.)
2.      Titik B, diletakan di kota (tempat) yang akan ditentukan arah kiblatnya, misalnya Jakarta (φ = –6° 10’ dan λ = 106° 49’ BT)
3.      Titik C, diletakan di titik kutub utara.
Bila ketiga titik itu dihubungkan dengan garis lengkung, maka terjadilah segitiga bola ABC, seperti gambar di bawah ini. Titik A adalah posisi Mekah (ka’bah), titik B adalah kota Jakarta, dan titik C adalah kutub utara.
Ketiga sisi segitiga ABC di samping ini diberi nama dengan huruf kecil dengan nama sudut di depannya, sehingga:
Sisi BC disebut sisi a, karena berada di depan sudut A.
Sisi AC disebut sisi b, karena berada di depan sudut B.
 Sisi AB disebut sisi c, karena berada di depan sudut C.
            Dengan gambar di atas, dapatlah diketahui bahwa yang dimaksud dengan perhitungan arah kiblat adalah suatu perhitungan untuk mengetahui berapa besar nilai sudut B, yakni sudut yang diapit oleh sisi a dan sisi c.

PERHITUNGAN ARAH KIBLAT

            Perhitungan arah kiblat dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
               Cotan B = sin a × cotan b ÷ sin C – cos a × cotan C

            Dengan rumus di atas diperlukan 3 unsur, yaitu:
a adalah jarak antara titik kutub utara sampai garis lintang yang melewati kota yang akan dicari arah kiblatnya, sehingga dapat dirumuskan:    a = 90° – φ kota ybs.
b adalah jarak antara tititk kutub utara sampai garis lintang yang melewati ka’bah (φ = +21° 25’), sehingga dapat dirumuskan:    b = 90° – 21° 25’     sisi b ini harganya tetap, yakni 68° 35’.
c adalah jarak bujur tempat yang dicari arah kiblatnya sampai bujur ka’bah (39° 50’).
Contoh perhitungan:
Menghitung arah kiblat kota Jakarta.
A.    Data yang diketahui: 1.  Ka’bah                  Lintang   = 21° 25’ (LU)
                                                                     Bujur      = 39° 50’ (BT)
                                  2.  Jakarta                   Lintang   = -6° 10’ (LS)
                                                                     Bujur      = 106° 49’ (BT)

B.     Rumus yang digunakan: 1. Unsur:  a.  a = 90° – (-6° 10’) = 96° 10’
    b.  b = 90° – 21° 25’ = 68° 35’
    c.  c = 106° 49’ – 39° 50’ = 66° 59’
Contoh operasi perhitungan dengan kalkulator:

1.      Casio fx-901
a.      90 °’” – 6 °’” 10 °’” +/- = 96° 10’
b.      90 °’” – 21’” 25’” = 68° 35’
c.       106°’”  49°’”  – 39°’”  50°’”  = 66° 59’

2.      Sharp EL-501W
a.      90 Deg – 6.10 Deg +/- = 2nd Deg 96.10
b.      90 Deg – 21.25 Deg = 2nd Deg 68.35
c.       106.49 Deg – 39.50 Deg = 2nd Deg 66.59

3.      Casio fx-3650P
a.      90 °’” – ( (-) 6 °’” 10 °’” ) EXE 96° 10’
b.      90 °’” – 6 °’” 10 °’” EXE 68° 35’
c.       106°’”  49°’”  – 39°’”  50°’” EXE 66° 59’

4.      Casio fx-4500PA
a.      90 °’” – ( (-) 6 °’” 10 °’” ) EXE Shift °’” 96° 10’
b.      90 °’” – 6 °’” 10 °’” EXE Shift °’” 68° 35’
c.       106°’”  49°’”  – 39°’”  50°’” EXE Shift °’” 66° 59’
                                        2.  Cotan B = sin a × cotan b / sin C – cos a × cotan C 
Contoh operasi perhitungan dengan kalkulator:

1.      Casio fx-901
96 °’” 10 °’” sin × 68 °’” 35 °’” tan 1/x ÷ 66 °’” 59 °’” sin – 96 °’” 10 °’” cos × 66 °’” 59 °’” tan 1/x = 1/x Shift tan Shift °’” 64° 51’29.27”

2.      Sharp EL-501W
96.10 Deg sin × 68.35 Deg tan 1/x ÷ 66.59 Deg sin – 96.10 Deg cos × 66.59 Deg tan 1/x = 1/x 2nd tan 2nd Deg 64.52926

3.      Casio fx-3650P
Shift tan ( sin 96 °’” 10 °’” × 1 ÷ tan 68 °’” 35 °’” ÷ sin 66 °’” 59 °’” – cos 96 °’” 10 °’” ×       1 ÷ tan 66 °’” 59 °’” ) X-1 EXE Shift °’” 64° 51’29.27”

4.      Casio fx-4500PA
Shift tan ( sin 96 °’” 10 °’” × 1 / tan 68 °’” 35 °’” / sin 66 °’” 59 °’” – cos 96 °’” 10 °’” × 1 / tan 66 °’” 59 °’” ) X-1 EXE Shift °’” 64° 51’29.27”
            Dengan perhitungan di atas, dapatlah diketahui bahwa arah kiblat kota Jakarta adalah 64° 51’ 29.27” dari titik utara (sejati) ke arah barat atau 25° 08’ 30.73” dari arah barat ke arah utara.

PENENTUAN ARAH KIBLAT DI LAPANGAN

            Setelah perhitungan arah kiblat didapatkan, maka langkah selanjutnya mengukur arah kiblat dilapangan. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan 4 cara, yaitu dengan Kompas Magnetis, Tongkat Istiwa, Theodolite, dan Rubu’ Mujayyab. Untuk keperluan pelatihan kali ini hanya satu cara saja yang disampaikan, yaitu dengan cara menggunakan Tongkat Istiwa.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

1.      Pilih tempat yang rata, datar dan terbuka. (untuk mengetahui datarnya bisa mengunakan waterpas).
2.      Tancapkan sebuah tongkat yang lurus dengan ketinggian sekitar 1,5 meter dan diameter sekitar 5 cm tegak lurus dengan bidang datar di atas tadi. (untuk mengetahui tegak lurus bisa pakai lot).
3.      Buatlah lingkaran yang berpusat pada tongkat di atas.
4.      Perhatikan bayang-bayang tongkat saat menyentuh lingkaran sebelum dan sesudah zhurur, tandailah keduanya dan hubungkan dengan sebuah garis lurus. Garis inilah yang menunjukkan arah Barat dan Timur.
5.      Buatlah garis yang tegak lurus dengan garis Barat-Timur, maka garis ini menunjukkan arah Utara-Selatan.
6.      Ukur arah kiblat sesuai dengan hasil perhitungan di atas, dengan menggunakan Busur Derajat.   

Keterangan untuk gambar di bawah ini:

M1             = Posisi matahari sebelum zhuhur                   T                      = Arah Timur
M2             = Posisi matahari setelah zhuhur                     U                     = Arah Utara
B               = Arah Barat                                                   S                      = Arah Selatan


                  M2                      M1  
                                                                                                        
                                                                                                                                   
                                                                                                                       
                                                                       
                                                                                                                        B        Kiblat
                                                     Tongkat                                                      
                                                                                                                                                                                                   
                                                                                                                                                      
                                                 U                                       
                                                 
                                                                                                                                   


 B                                                        T                 S                                                                              U

                                                                                                                        T
              S           Bayang-bayang

BAYANGAN ARAH KIBLAT

            Bayangan kiblat adalah bayangan setiap benda  yang berdiri tegak lurus di permukaan bumi berimpit dengan arah kiblat, sehingga langsung menunjukkan arah kiblat. Hal demikian ini tentunya terjadi pada siang hari, karena bayangan yang dimaksud adalah sinar matahari yang terhalang oleh benda yang bersangkutan.
                                   
                        A                                             Keterangan gambar:               
                                                                        D1 – U = Deklinasi maksimum utara matahari
              D1                                    U               L1 – M = Lintang kota Makah
            L1                                         M            E – Q   = Equator Bumi
Q
 
E
 
                                                                        L2 – J   = Lintang Jakarta
                                                                        D2 – S = Deklinasi maksimum selatan matahari
           L2                                           J                         = Ka’bah
            D2                                        S                          = Jakarta         
                                                                       A – K  = Arah kiblat Jakarta
                                                      K

            Terbit dan terbenamnya matahari tidak tetap di titik timur dan titik barat, tetapi adakalanya bergeser ke arah utara dan ke arah selatannya. Pergeseran ini dinamakan deklinasi. Deklinasi minimum, yaitu 0° akan  tarjadi pada tiap tanggal 21 Maret, dimana lintasan semu harian matahari berhimpit dengan bidang equator bumi (E-Q), selanjutnya matahari bergeser ke arah utara sampai tanggal 22 Juni matahari mencapai deklinasi maksimum (D1–U), yaitu +23° 30’. Kemudian matahari bergeser lagi ke arah selatan dan pada tanggal 23 September berada lagi di equator. Setelah itu matahari bergeser ke arah selatannya sampai mencapai deklinasi maksimum selatan (D2–S), yaitu -23° 30’ pada tanggal 22 Desember. Selanjutnya bergeser ke arah utara kembali sampai berhimpit dengan equator pada tanggal 21 Maret. Demikianlah seterusnya.
            Dalam perjalanan semu hariannya matahari akan senantiasa melewati garis (busur) A-K, yaitu garis yang menghubungkan arah Jakarta ke Ka’bah. Maka ketika matahari berada pada garis A-K inilah semua benda yang tegak lurus dengan bidang datar permukaan bumi akan mengarah ke arah kiblat (menghadap atau membelakangi ka’bah), hal ini disebut posisi matahari di jalur ka’bah. Disamping itu ada posisi istimewa matahari yang terjadi dua kali dalam setahun, yaitu di saat matahari di atas ka’bah. Posisi ini akan terjadi bila nilai deklinasi matahari sama dengan lintang ka’bah, yaitu +21° 25’. Hal ini akan terjadi sekitar tanggal 28 Mei dan 16 Juli. Posisi ini disebut posisi matahari di atas ka’bah.

1.      Posisi Matahari di Jalur Ka’bah

Ketika posisi matahari di jalur ka’bah bayangan matahari akan berimpit dengan arah yang menuju ka’bah  untuk suatu lokasi atau tempat. Posisi matahari seperti itu dapat diperhitungkan kapan akan terjadi. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
a.       Data yang harus di ketahui:

1)      Menentukan waktu (tanggal, bulan dan tahun) yang ingin dicari bayang-bayang kiblatnya, misalnya tanggal 22 Desember 2007. 
2)      Mencari data geografis lokasi yang ingin diketahui arah kiblatnya, contohnya Jakarta φ =   - 6° 10’ dan λ = 106° 49’.
3)      Mengetahui arah kiblat lokasi yang ingin dicari bayang-bayang kiblatnya, contohnya untuk Jakarta Q = 64° 51’ 29.27”.
4)      Mengetahui data bujur daerah, contohnya Waktu Indonesia bagian Barat (WIB) ω = 105°.
5)      Mencari data deklinasi matahari pada tanggal dan bulan yang dicari bayang-bayang kiblatnya, misalnya deklinasi matahari pada tanggal 22 Desember 2007, yaitu δ = - 23° 26’ 24” (jam 02:00 GMT atau 09:00 WIB).
6)      Mencari Merpass dengan rumus 12 j – e, e adalah perata waktu, dan perata waktu untuk tanggal 22 Desember 2007, yaitu = 00° 1’ 47” (jam 02:00 GMT atau 09:00 WIB). Dengan demikian nilai Merpassnya (MP) adalah: 12° 00’ 00” – 00° 01’ 47” = 11 j 58m 13d
               
b.      Rumus yang digunakan:

1)      Cotan P        = tan Q . sin φ            
2)      Cos (C – P) =  
3)   Jam               =  + MP
c.   Proses perhitungan:

1)      Rumus 1
a)      Casio fx-901
64 °’” 51 °’”  29.27 °’”  tan × 6 °’” 10 °’”  +/- sin = 1/x shift tan shift °’” -77° 6’ 28.8”
b)      Sharp EL-501W
64.512927 Deg tan × 6.10 +/- Deg sin = 1/x 2nd tan 2nd Deg -77.062879  
c)      Casio fx-3650P
Shift tan ( tan 64 °’” 51 °’”  29.27 °’” × sin (-)  6 °’” 10°’” ) X-1 EXE shift °’”                  -77° 6’ 28.8”  
d)     Casio fx-4500PA
      Shift tan ( tan 64 °’” 51 °’”  29.27 °’” × sin (-)  6 °’” 10°’” ) X-1 EXE shift °’”                  -77° 6’ 28.8”

2)      Rumus 2
a)      Casio fx-901
77 °’” 6 °’” 28.8 °’” +/- cos × 23 °’” 26 °’” 24 °’” +/- tan ÷ 6 °’” 10 °’”  +/- tan = shift cos shift °’” 26° 27’ 5.2” = (C-P),
C =  26° 27’ 5.2” + -77° 6’ 28.8” (P) =
       26 °’” 27 °’” 5.2 °’” + 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” +/- = -50° 39’ 23.6”    
b)      Sharp EL-501W
77.06288 +/- Deg cos × 23.2624 +/- Deg tan ÷ 6.10 +/- Deg tan = 2nd cos 2nd Deg 26.270519 = (C-P),
C =  26° 27’ 05.19” + -77° 6’ 28.8” (P) =
26.270519 Deg + 77.06288 +/- Deg = 2nd Deg -50.392361
c)      Casio fx-3650P
Shift cos ( Cos (-)  77°’” 6°’” 28.8°’” × tan (-)  23°’” 26°’” 24°’” ÷ tan (-)  6°’” 10°’” ) EXE shift °’” 26° 27’ 5.2” = (C-P),
C =  26° 27’ 5.2” + -77° 6’ 28.8” (P) =
 26 °’” 27 °’” 5.2 °’” + (-) 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” EXE -50° 39’ 23.6”
d)     Casio fx-4500PA
Shift cos ( Cos (-)  77°’” 6°’” 28.8°’” × tan (-)  23°’” 26°’” 24°’” / tan (-)  6°’” 10°’” ) EXE shift °’” 26° 27’ 5.2” = (C-P),
C =  26° 27’ 5.2” + -77° 6’ 28.8” (P) =
26 °’” 27 °’” 5.2 °’” + (-) 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” EXE shift °’” -50° 39’ 23.6”

                                                  
3)      Rumus 3
a)      Casio fx-901
( ( 50 °’”  39 °’”  23.6 °’”  +/- – 106 °’”  49 °’”  + 105 °’” ) ÷ 15 ) + 11 °’” 58 °’” 13°’”       =   8° 28’ 19.43”
b)      Sharp EL-501W
( ( 50.392361 Deg +/- – 106.49 Deg + 105 Deg ) ÷ 15 ) + 11.5813 Deg = 2nd Deg 8.281942
c)      Casio fx-3650P
( ( (-) 50 °’” 39 °’” 23.6 °’” – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) ÷ 15 ) + 11 °’” 58 °’” 13°’”       EXE   8° 28’ 19.43”
d)     Casio fx-4500PA
( ( (-) 50 °’” 39 °’” 23.6 °’” – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) / 15 ) + 11 °’” 58 °’” 13°’”       EXE   8° 28’ 19.43” dibulatkan menjadi jam 08:28 WIB.

            Jadi tanggal 22 Desember 2007  bayang-bayang benda yang tegak lurus dengan bidang datar bumi akan mengarah kiblat pada jam 08: 28 WIB.         
Setelah diketahui waktu bayang-bayang matahari mengarah kiblat, selanjutnya menentukan arah kiblat di lapangan dengan bantuan tongkat istiwa. Adapun dengan langka-langkah sebagai berikut:

a.       Carilah tongkat yang benar-benar lurus dengan ketinggian dan diameter minimal 1,5 meter × 5 cm.
b.      Tancapkan tongkat tersebut secara tegak lurus pada tanah yang benar-benar datar dan terbuka sehingga cahaya matahari yang menyinari tongkat tidak terhalang oleh sesuatu.
c.       Perhatikan bayangan tongkat sesaat sebelum jam 08:28 WIB dan ketika pas jam 08:28 WIB bayangan tongkat sedang mengarah kiblat dan segera beri garis pada bayangan tersebut, bayangan tongkat itu menunjukkan arah kiblat.
d.      Sebelumnya cocokan dulu jam yang akan dijadikan pedoman, dengan waktu yang disiarkan RRI atau menghubungi nomor telepon 103.

2.      Posisi Matahari di atas Ka’bah     

            Saat matahari berada di atas ka’bah, juga dapat dihitung dengan rumus yang sama, hanya saja nilai deklinasi mataharinya harus ketika sama dengan lintang ka’bah yaitu sebesar 21° 25’. Nilai deklinasi sebesar 21° 25’ akan terjadi tiap tahun sekitar tanggal 28 Mei dan 16 Juli.
Di bawah ini contoh untuk tanggal 16 Juli 2007 di Jakarta. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a.       Data yang harus di ketahui:

1)      Menentukan waktu (tanggal, bulan dan tahun) yang nilai deklinasinya paling dekat dengan nilai lintang Ka’bah (21° 25’), sebagai contoh untuk tahun 2007 adalah tanggal 16 Juli. 
2)      Mencari data geografis lokasi yang ingin diketahui arah kiblatnya, contohnya Jakarta φ =   - 6° 10’ dan λ = 106° 49’.
3)      Mengetahui arah kiblat lokasi yang ingin dicari kiblatnya, contohnya untuk Jakarta Q = 64° 51’29.27”.
4)      Mengetahui data bujur daerah, contohnya Waktu Indonesia bagian Barat (WIB) ω = 105°.
5)      Mencari data deklinasi matahari yang paling dekat dengan nilai lintang Ka’bah, untuk tanggal 16 Juli 2007, yaitu δ = 21° 25’ 11” (jam 06:00 GMT atau 13:00 WIB).
6)      Mencari Merpass dengan rumus 12 j – e, e adalah perata waktu, dan perata waktu untuk tanggal 16 Juli 2007, yaitu = - 00° 6’ 00” (jam 06:00 GMT atau 13:00 WIB). Dengan demikian nilai Merpassnya (MP) adalah: 12° 00’ 00” – - 00° 6’ 00” = 12 j 06m 00d
               
b.      Rumus yang digunakan:

1)      Cotan P        = tan Q . sin φ            
2)      Cos (C – P) = 
3)   Jam               =  + MP


c.   Proses perhitungan:

1)      Rumus 1
a)      Casio fx-901
64 °’” 51 °’”  29.27 °’”  tan × 6 °’” 10 °’”  +/- sin = 1/x shift tan shift °’” -77° 6’ 28.8”
b)   Sharp EL-501W
64.512927 Deg tan × 6.10 +/- Deg sin = 1/x 2nd tan 2nd Deg -77.062879  
c)      Casio fx-3650P
Shift tan ( tan 64 °’” 51 °’”  29.27 °’” × sin (-)  6 °’” 10°’” ) X-1 EXE shift °’”                  -77° 6’ 28.8”  
d)     Casio fx-4500PA
Shift tan ( tan 64 °’” 51 °’”  29.27 °’” × sin (-)  6 °’” 10°’” ) X-1 EXE shift °’”                  -77° 6’ 28.8”  

2)      Rumus 2
a)      Casio fx-901
77 °’” 6 °’” 28.8 °’” +/- cos × 21 °’” 25 °’” 11 °’” tan ÷ 6 °’” 10 °’”  +/- tan = shift cos shift °’” 144° 6’ 13.49” = (C-P),
C =  144° 6’ 13.49” + -77° 6’ 28.8” (P) =
       144 °’” 6 °’” 13.49 °’” + 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” +/- = 66° 59’ 44.69”    
b)      Sharp EL-501W
77.062879 +/- Deg cos × 21.2511 Deg tan ÷ 6.10 +/- Deg tan = 2nd cos 2nd Deg 144.061355 = (C-P),
C =  144° 6’ 13.55” + -77° 6’ 28.8” (P) =
144.061355 Deg + 77.06288 +/- Deg = 2nd Deg 66.594475
c)      Casio fx-3650P
Shift cos ( Cos (-)  77°’” 6°’” 28.8°’” × tan 21°’” 25°’” 11°’” ÷ tan (-)  6°’” 10°’” ) EXE shift °’” 144° 6’ 13.49” = (C-P),
C =  144 °’” 6 °’” 13.49 °’” + -77° 6’ 28.8” (P) =
144 °’” 6 °’” 13.49 °’” + (-) 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” EXE 66° 59’ 44.69”    
d)     Casio fx-4500PA
Shift cos ( Cos (-)  77°’” 6°’” 28.8°’” × tan 21°’” 25°’” 11°’” / tan (-)  6°’” 10°’” ) EXE shift °’” 144° 6’ 13.49” = (C-P),
C =  144 °’” 6 °’” 13.49 °’” + -77° 6’ 28.8” (P) =
144 °’” 6 °’” 13.49 °’” + (-) 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” EXE shift °’” 66° 59’ 44.69”    
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
3)      Rumus 3
a)      Casio fx-901
( ( 66 °’”  59 °’”  44.69 °’” – 106 °’”  49 °’”  + 105 °’” ) ÷ 15 ) + 12 °’” 6 °’” 00°’”       =   16° 26’ 42.98”
b)      Sharp EL-501W
( ( 66.594475 Deg  – 106.49 Deg + 105 Deg ) ÷ 15 ) + 12.0600 Deg = 2nd Deg 16.264298
c)      Casio fx-3650P
( ( 66 °’” 59 °’” 44.69 °’” – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) ÷ 15 ) + 12 °’” 6 °’” 00°’” EXE 16° 26’ 42.98”
d)     Casio fx-4500PA
( ( 66 °’” 59 °’” 44.69 °’” – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) / 15 ) + 12 °’” 6 °’” 00°’” EXE 16° 26’ 42.98” dibulatkan menjadi jam 16:27 WIB.

            Jadi tanggal 16 Juli 2007  bayang-bayang benda yang tegak lurus dengan bidang datar bumi akan membelakangi (mengarah) kiblat pada jam 16: 27 WIB.       
Setelah diketahui waktu bayang-bayang matahari mengarah kiblat, selanjutnya menentukan arah kiblat di lapangan dengan bantuan tongkat istiwa dengan langka-langkah sebagaimana  penentuan arah kiblat posisi matahari di jalur ka’bah.

Jakarta, Juli 2007