PERHITUNGAN ARAH
KIBLAT
(DATA EPHEMERIS
HISAB RUKYAT)
Masalah
kiblat tiada lain adalah masalah arah, yakni arah kota Mekah yang terdapat Ka’bah di
dalamnya. Arah ka’bah ini dapat
ditentukan di setiap permukaan bumi dengan melakukan perhitungan dan
pengukuran. Mengingat setiap tempat dipermukaan bumi ini berada pada permukaan
bola, maka penentuan arah kiblat dilakukan dengan Ilmu Ukur Segitiga Bola
(Spherical Trigonometri). Pengukuran dengan derajat sudut dari titik kutub
utara. Dengan demikian ada tiga buah titik yang harus dibuat, yaitu:
1.
Titik A, terletak di Ka’bah (φ =
+21° 25’ dan λ = 39° 50 BT.)
2.
Titik B, diletakan di kota (tempat) yang akan ditentukan arah kiblatnya,
misalnya Jakarta
(φ = –6° 10’ dan λ = 106° 49’ BT)
3.
Titik C, diletakan di titik kutub
utara.
Bila ketiga
titik itu dihubungkan dengan garis lengkung, maka terjadilah segitiga bola ABC,
seperti gambar di bawah ini. Titik A adalah posisi Mekah (ka’bah), titik B
adalah kota Jakarta, dan titik C adalah kutub utara.

Ketiga sisi segitiga ABC di samping ini diberi nama dengan huruf kecil
dengan nama sudut di depannya, sehingga:
Sisi BC disebut sisi a, karena berada di
depan sudut A.
Sisi AC disebut sisi b, karena berada di depan sudut B.
Sisi AB
disebut sisi c, karena berada di depan sudut C.
Dengan gambar di atas, dapatlah
diketahui bahwa yang dimaksud dengan perhitungan arah kiblat adalah suatu
perhitungan untuk mengetahui berapa besar nilai sudut B, yakni sudut yang
diapit oleh sisi a dan sisi c.
PERHITUNGAN
ARAH KIBLAT
Perhitungan arah kiblat dapat
menggunakan rumus sebagai berikut:
Cotan B = sin a × cotan
b ÷ sin C – cos a × cotan C
Dengan
rumus di atas diperlukan 3 unsur, yaitu:
c adalah jarak bujur tempat yang dicari arah
kiblatnya sampai bujur ka’bah (39° 50’).
Contoh perhitungan:
Menghitung arah kiblat kota Jakarta.
A.
Data yang diketahui: 1. Ka’bah Lintang = 21° 25’ (LU)
Bujur = 39° 50’ (BT)
Bujur = 106° 49’ (BT)
B.
Rumus yang digunakan: 1. Unsur: a. a = 90° – (-6° 10’) = 96° 10’
b. b = 90° – 21° 25’ = 68° 35’
c. c = 106° 49’ – 39° 50’ = 66° 59’
Contoh operasi
perhitungan dengan kalkulator:
1.
Casio fx-901
a.
90 °’” – 6 °’” 10 °’” +/- = 96°
10’
b.
90 °’” – 21’” 25’” = 68° 35’
c.
106°’” 49°’”
– 39°’” 50°’” = 66° 59’
2.
Sharp EL-501W
a.
90 Deg – 6.10 Deg +/- = 2nd
Deg 96.10
b.
90 Deg – 21.25 Deg = 2nd Deg 68.35
c.
106.49 Deg – 39.50 Deg = 2nd Deg 66.59
3.
Casio fx-3650P
a.
90 °’” – ( (-) 6 °’”
10 °’” ) EXE 96° 10’
b.
90 °’” – 6 °’” 10 °’” EXE 68°
35’
c.
106°’” 49°’”
– 39°’” 50°’” EXE 66° 59’
4.
Casio fx-4500PA
a.
90 °’” – ( (-) 6 °’”
10 °’” ) EXE Shift °’” 96° 10’
b.
90 °’” – 6 °’” 10 °’” EXE
Shift °’” 68° 35’
c.
106°’” 49°’”
– 39°’” 50°’” EXE Shift °’” 66°
59’
2. Cotan B = sin a × cotan b / sin C – cos a ×
cotan C
Contoh operasi
perhitungan dengan kalkulator:
1.
Casio fx-901
96 °’” 10 °’” sin
× 68 °’” 35 °’” tan 1/x ÷ 66 °’” 59 °’” sin – 96 °’” 10 °’” cos × 66 °’”
59 °’” tan 1/x = 1/x Shift tan Shift °’” 64° 51’29.27”
2.
Sharp EL-501W
96.10 Deg sin
× 68.35 Deg tan 1/x ÷ 66.59 Deg sin – 96.10 Deg cos × 66.59 Deg tan 1/x
= 1/x 2nd tan 2nd Deg 64.52926
3.
Casio fx-3650P
Shift tan ( sin
96 °’” 10 °’” × 1 ÷ tan 68 °’” 35 °’” ÷ sin 66 °’” 59 °’” – cos
96 °’” 10 °’” × 1 ÷ tan 66 °’” 59 °’” ) X-1 EXE
Shift °’” 64° 51’29.27”
4.
Casio fx-4500PA
Shift tan (
sin 96 °’” 10 °’” × 1 / tan 68 °’” 35 °’” / sin 66 °’” 59 °’” – cos 96
°’” 10 °’” × 1 / tan 66 °’” 59 °’” ) X-1 EXE Shift °’” 64°
51’29.27”
Dengan perhitungan di atas, dapatlah
diketahui bahwa arah kiblat kota Jakarta adalah 64° 51’ 29.27” dari titik utara
(sejati) ke arah barat atau 25° 08’ 30.73” dari arah barat ke arah utara.
PENENTUAN
ARAH KIBLAT DI LAPANGAN
Setelah perhitungan arah kiblat
didapatkan, maka langkah selanjutnya mengukur arah kiblat dilapangan. Pengukuran
ini dapat dilakukan dengan 4 cara, yaitu dengan Kompas Magnetis, Tongkat
Istiwa, Theodolite, dan Rubu’ Mujayyab. Untuk keperluan pelatihan kali ini hanya
satu cara saja yang disampaikan, yaitu dengan cara menggunakan Tongkat
Istiwa.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1.
Pilih tempat yang rata, datar dan
terbuka. (untuk mengetahui datarnya bisa mengunakan waterpas).
2.
Tancapkan sebuah tongkat yang
lurus dengan ketinggian sekitar 1,5 meter dan diameter sekitar 5 cm tegak lurus
dengan bidang datar di atas tadi. (untuk mengetahui tegak lurus bisa pakai
lot).
3.
Buatlah lingkaran yang berpusat pada
tongkat di atas.
4.
Perhatikan bayang-bayang tongkat
saat menyentuh lingkaran sebelum dan sesudah zhurur, tandailah keduanya dan
hubungkan dengan sebuah garis lurus. Garis inilah yang menunjukkan arah Barat
dan Timur.
5.
Buatlah garis yang tegak lurus
dengan garis Barat-Timur, maka garis ini menunjukkan arah Utara-Selatan.
6.
Ukur arah kiblat sesuai dengan
hasil perhitungan di atas, dengan menggunakan Busur Derajat.
Keterangan untuk
gambar di bawah ini:
M1 = Posisi matahari sebelum zhuhur T = Arah Timur
M2 = Posisi matahari setelah zhuhur U = Arah Utara
B = Arah Barat S = Arah Selatan
M2 M1

B
Kiblat
Tongkat
U
B T S U
T
S Bayang-bayang
BAYANGAN ARAH KIBLAT
Bayangan kiblat adalah
bayangan setiap benda yang berdiri tegak
lurus di permukaan bumi berimpit dengan arah kiblat, sehingga langsung
menunjukkan arah kiblat. Hal demikian ini tentunya terjadi pada siang hari,
karena bayangan yang dimaksud adalah sinar matahari yang terhalang oleh benda
yang bersangkutan.
A Keterangan gambar:
D1
– U = Deklinasi maksimum utara matahari
D1 U L1 – M = Lintang kota
Makah
L1 M E – Q = Equator Bumi
|
|
D2
– S = Deklinasi maksimum selatan matahari
A – K = Arah kiblat Jakarta
K
Terbit dan terbenamnya
matahari tidak tetap di titik timur dan titik barat, tetapi adakalanya bergeser
ke arah utara dan ke arah selatannya. Pergeseran ini dinamakan deklinasi.
Deklinasi minimum, yaitu 0° akan tarjadi
pada tiap tanggal 21 Maret, dimana lintasan semu harian matahari berhimpit
dengan bidang equator bumi (E-Q), selanjutnya matahari bergeser ke arah utara
sampai tanggal 22 Juni matahari mencapai deklinasi maksimum (D1–U),
yaitu +23° 30’. Kemudian matahari bergeser lagi ke arah selatan dan pada
tanggal 23 September berada lagi di equator. Setelah itu matahari bergeser ke
arah selatannya sampai mencapai deklinasi maksimum selatan (D2–S),
yaitu -23° 30’ pada tanggal 22 Desember. Selanjutnya bergeser ke arah utara
kembali sampai berhimpit dengan equator pada tanggal 21 Maret. Demikianlah
seterusnya.
Dalam perjalanan semu
hariannya matahari akan senantiasa melewati garis (busur) A-K, yaitu garis yang
menghubungkan arah Jakarta
ke Ka’bah. Maka ketika matahari berada pada garis A-K inilah semua benda yang
tegak lurus dengan bidang datar permukaan bumi akan mengarah ke arah kiblat
(menghadap atau membelakangi ka’bah), hal ini disebut posisi matahari di
jalur ka’bah. Disamping itu ada posisi istimewa matahari yang terjadi dua
kali dalam setahun, yaitu di saat matahari di atas ka’bah. Posisi ini akan
terjadi bila nilai deklinasi matahari sama dengan lintang ka’bah, yaitu +21° 25’.
Hal ini akan terjadi sekitar tanggal 28 Mei dan 16 Juli. Posisi ini disebut posisi
matahari di atas ka’bah.
1.
Posisi Matahari di Jalur Ka’bah
Ketika posisi matahari di jalur
ka’bah bayangan matahari akan berimpit dengan arah yang menuju ka’bah untuk suatu lokasi atau tempat. Posisi
matahari seperti itu dapat diperhitungkan kapan akan terjadi. Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. Data yang harus di ketahui:
1)
Menentukan waktu (tanggal, bulan
dan tahun) yang ingin dicari bayang-bayang kiblatnya, misalnya tanggal 22
Desember 2007.
2)
Mencari data geografis lokasi yang
ingin diketahui arah kiblatnya, contohnya Jakarta
φ = - 6° 10’ dan λ
= 106° 49’.
3)
Mengetahui arah kiblat lokasi yang
ingin dicari bayang-bayang kiblatnya, contohnya untuk Jakarta Q = 64° 51’ 29.27”.
4)
Mengetahui data bujur daerah,
contohnya Waktu Indonesia
bagian Barat (WIB) ω = 105°.
5)
Mencari data deklinasi matahari
pada tanggal dan bulan yang dicari bayang-bayang kiblatnya, misalnya deklinasi
matahari pada tanggal 22 Desember 2007, yaitu δ = - 23° 26’ 24”
(jam 02:00 GMT atau 09:00 WIB).
6) Mencari Merpass dengan rumus 12 j – e, e adalah
perata waktu, dan perata waktu untuk tanggal 22 Desember 2007, yaitu = 00° 1’ 47”
(jam 02:00 GMT atau 09:00 WIB). Dengan demikian nilai Merpassnya (MP) adalah:
12° 00’ 00” – 00° 01’ 47” = 11 j 58m 13d
b. Rumus yang digunakan:
1)
Cotan P = tan Q . sin φ
2)
Cos (C – P) = 
3) Jam
=
+ MP
c.
Proses perhitungan:
1)
Rumus 1
a)
Casio fx-901
64
°’” 51 °’” 29.27 °’” tan × 6 °’” 10 °’” +/- sin = 1/x shift tan shift °’” -77° 6’
28.8”
b)
Sharp EL-501W
64.512927
Deg tan × 6.10 +/- Deg sin = 1/x 2nd tan 2nd Deg -77.062879
c)
Casio fx-3650P
Shift
tan ( tan 64 °’” 51 °’” 29.27 °’” × sin (-) 6 °’” 10°’” ) X-1 EXE shift
°’” -77° 6’ 28.8”
d)
Casio fx-4500PA
Shift
tan ( tan 64 °’” 51 °’” 29.27 °’” × sin (-) 6 °’” 10°’” ) X-1 EXE shift
°’” -77° 6’ 28.8”
2)
Rumus 2
a)
Casio fx-901
77
°’” 6 °’” 28.8 °’” +/- cos × 23 °’” 26 °’” 24 °’” +/- tan ÷ 6 °’” 10 °’” +/- tan = shift cos shift °’” 26° 27’ 5.2”
= (C-P),
C
= 26° 27’ 5.2” + -77° 6’ 28.8” (P) =
26 °’” 27 °’” 5.2 °’” + 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” +/-
= -50° 39’ 23.6”
b)
Sharp EL-501W
77.06288
+/- Deg cos × 23.2624 +/- Deg tan ÷ 6.10 +/- Deg tan = 2nd cos 2nd Deg 26.270519
= (C-P),
C
= 26° 27’ 05.19” + -77° 6’ 28.8” (P) =
26.270519
Deg + 77.06288 +/- Deg = 2nd Deg -50.392361
c)
Casio fx-3650P
Shift
cos ( Cos (-)
77°’” 6°’” 28.8°’” × tan (-) 23°’” 26°’” 24°’” ÷ tan (-) 6°’” 10°’” ) EXE shift °’” 26° 27’ 5.2”
= (C-P),
C
= 26° 27’ 5.2” + -77° 6’ 28.8” (P) =
26 °’” 27 °’” 5.2 °’” + (-) 77 °’” 6
°’” 28.8 °’” EXE -50° 39’ 23.6”
d)
Casio fx-4500PA
Shift
cos ( Cos (-) 77°’” 6°’” 28.8°’” × tan (-) 23°’” 26°’” 24°’” / tan (-) 6°’” 10°’” ) EXE shift °’” 26° 27’ 5.2”
= (C-P),
C
= 26° 27’ 5.2” + -77° 6’ 28.8” (P) =
26
°’” 27 °’” 5.2 °’” + (-) 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” EXE shift °’” -50° 39’
23.6”
3)
Rumus 3
a)
Casio fx-901
(
( 50 °’” 39 °’” 23.6 °’” +/- – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) ÷ 15 ) + 11 °’” 58 °’” 13°’” =
8° 28’ 19.43”
b)
Sharp EL-501W
(
( 50.392361 Deg +/- – 106.49 Deg + 105 Deg ) ÷ 15 ) + 11.5813 Deg = 2nd
Deg 8.281942
c)
Casio fx-3650P
(
( (-)
50 °’” 39 °’” 23.6 °’” – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) ÷ 15 ) + 11 °’” 58
°’” 13°’” EXE 8° 28’ 19.43”
d)
Casio fx-4500PA
(
( (-)
50 °’” 39 °’” 23.6 °’” – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) / 15 ) + 11 °’” 58 °’” 13°’” EXE
8° 28’ 19.43” dibulatkan menjadi jam 08:28 WIB.
Jadi tanggal 22 Desember 2007 bayang-bayang benda yang tegak lurus dengan
bidang datar bumi akan mengarah kiblat pada jam 08: 28 WIB.
Setelah diketahui waktu bayang-bayang matahari mengarah kiblat,
selanjutnya menentukan arah kiblat di lapangan dengan bantuan tongkat istiwa.
Adapun dengan langka-langkah sebagai berikut:
a.
Carilah tongkat yang benar-benar
lurus dengan ketinggian dan diameter minimal 1,5 meter × 5 cm.
b.
Tancapkan tongkat tersebut secara
tegak lurus pada tanah yang benar-benar datar dan terbuka sehingga
cahaya matahari yang menyinari tongkat tidak terhalang oleh sesuatu.
c.
Perhatikan bayangan tongkat sesaat
sebelum jam 08:28 WIB dan ketika pas jam 08:28 WIB bayangan tongkat sedang
mengarah kiblat dan segera beri garis pada bayangan tersebut, bayangan tongkat
itu menunjukkan arah kiblat.
d.
Sebelumnya cocokan dulu jam yang
akan dijadikan pedoman, dengan waktu yang disiarkan RRI atau menghubungi nomor
telepon 103.
2.
Posisi Matahari di atas Ka’bah
Saat matahari berada di
atas ka’bah, juga dapat dihitung dengan rumus yang sama, hanya saja nilai
deklinasi mataharinya harus ketika sama dengan lintang ka’bah yaitu sebesar 21°
25’. Nilai deklinasi sebesar 21° 25’ akan terjadi tiap tahun sekitar tanggal 28
Mei dan 16 Juli.
Di bawah ini contoh untuk tanggal 16 Juli 2007 di Jakarta. Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. Data yang harus di ketahui:
1)
Menentukan waktu (tanggal, bulan
dan tahun) yang nilai deklinasinya paling dekat dengan nilai lintang Ka’bah
(21° 25’), sebagai contoh untuk tahun 2007 adalah tanggal 16 Juli.
2)
Mencari data geografis lokasi yang
ingin diketahui arah kiblatnya, contohnya Jakarta
φ = - 6° 10’ dan λ
= 106° 49’.
3)
Mengetahui arah kiblat lokasi yang
ingin dicari kiblatnya, contohnya untuk Jakarta
Q = 64° 51’29.27”.
4)
Mengetahui data bujur daerah,
contohnya Waktu Indonesia
bagian Barat (WIB) ω = 105°.
5)
Mencari data deklinasi matahari yang
paling dekat dengan nilai lintang Ka’bah, untuk tanggal 16 Juli 2007, yaitu δ
= 21° 25’ 11” (jam 06:00 GMT atau 13:00 WIB).
6) Mencari Merpass dengan rumus 12 j – e, e adalah
perata waktu, dan perata waktu untuk tanggal 16 Juli 2007, yaitu = - 00° 6’ 00”
(jam 06:00 GMT atau 13:00 WIB). Dengan demikian nilai Merpassnya (MP)
adalah: 12° 00’ 00” – - 00° 6’ 00” = 12 j 06m 00d
b. Rumus yang digunakan:
1)
Cotan P = tan Q . sin φ
2)
Cos (C – P) = 
3) Jam
=
+ MP
c.
Proses perhitungan:
1)
Rumus 1
a)
Casio fx-901
64
°’” 51 °’” 29.27 °’” tan × 6 °’” 10 °’” +/- sin = 1/x shift tan shift °’” -77° 6’
28.8”
b)
Sharp EL-501W
64.512927
Deg tan × 6.10 +/- Deg sin = 1/x 2nd tan 2nd Deg -77.062879
c)
Casio fx-3650P
Shift
tan ( tan 64 °’” 51 °’” 29.27 °’” × sin (-) 6 °’” 10°’” ) X-1 EXE shift
°’” -77° 6’ 28.8”
d)
Casio fx-4500PA
Shift
tan ( tan 64 °’” 51 °’” 29.27 °’” × sin (-) 6 °’” 10°’” ) X-1 EXE shift
°’” -77° 6’ 28.8”
2)
Rumus 2
a)
Casio fx-901
77
°’” 6 °’” 28.8 °’” +/- cos × 21 °’” 25 °’” 11 °’” tan ÷ 6 °’” 10
°’” +/- tan = shift cos shift °’” 144°
6’ 13.49” = (C-P),
C
= 144° 6’ 13.49” + -77° 6’ 28.8” (P) =
144 °’” 6 °’” 13.49 °’” + 77 °’” 6 °’” 28.8
°’” +/- = 66° 59’ 44.69”
b)
Sharp EL-501W
77.062879
+/- Deg cos × 21.2511 Deg tan ÷ 6.10 +/- Deg tan = 2nd cos 2nd Deg 144.061355
= (C-P),
C
= 144° 6’ 13.55” + -77° 6’ 28.8” (P) =
144.061355
Deg + 77.06288 +/- Deg = 2nd Deg 66.594475
c)
Casio fx-3650P
Shift
cos ( Cos (-) 77°’” 6°’” 28.8°’” × tan 21°’” 25°’” 11°’”
÷ tan (-) 6°’” 10°’” ) EXE shift
°’” 144° 6’ 13.49” = (C-P),
C
= 144 °’” 6 °’” 13.49 °’” + -77° 6’
28.8” (P) =
144
°’” 6 °’” 13.49 °’” + (-) 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” EXE 66° 59’ 44.69”
d)
Casio fx-4500PA
Shift
cos ( Cos (-) 77°’” 6°’” 28.8°’” × tan 21°’” 25°’” 11°’”
/ tan (-) 6°’” 10°’” ) EXE shift
°’” 144° 6’ 13.49” = (C-P),
C
= 144 °’” 6 °’” 13.49 °’” + -77° 6’
28.8” (P) =
144
°’” 6 °’” 13.49 °’” + (-) 77 °’” 6 °’” 28.8 °’” EXE shift °’” 66° 59’
44.69”
3)
Rumus 3
a)
Casio fx-901
(
( 66 °’” 59 °’” 44.69 °’” – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) ÷ 15 ) + 12 °’” 6 °’” 00°’” =
16° 26’ 42.98”
b)
Sharp EL-501W
(
( 66.594475 Deg – 106.49 Deg + 105 Deg )
÷ 15 ) + 12.0600 Deg = 2nd Deg 16.264298
c)
Casio fx-3650P
(
( 66 °’” 59 °’” 44.69 °’” – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) ÷ 15 ) + 12 °’” 6
°’” 00°’” EXE 16° 26’ 42.98”
d)
Casio fx-4500PA
(
( 66 °’” 59 °’” 44.69 °’” – 106 °’” 49 °’” + 105 °’” ) / 15 ) + 12 °’” 6 °’” 00°’”
EXE 16° 26’ 42.98” dibulatkan menjadi jam 16:27 WIB.
Jadi
tanggal 16 Juli 2007 bayang-bayang benda
yang tegak lurus dengan bidang datar bumi akan membelakangi (mengarah) kiblat
pada jam 16: 27 WIB.
Setelah diketahui waktu bayang-bayang matahari mengarah kiblat,
selanjutnya menentukan arah kiblat di lapangan dengan bantuan tongkat istiwa
dengan langka-langkah sebagaimana penentuan
arah kiblat posisi matahari di jalur ka’bah.
Jakarta,
Juli 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar